WHAY LOVE?

BY. PWB

Namaku adalah Septian Adi, cukup panggil saja Adi dan jangan panggil nama depanku. Bagiku nama itu kurang hoki. Kenapa? Orang akan senang memanggil dengan “sep” ato “septi”. Itu sangat menurunkan derajat dan martabatku :p. Waktu sekolah aku tergolong murid yang terdepan, karena mejaku juga memang di barisan paling depan. Guru-guruku bilang aku punya SDM yang bagus tapi aku sendiri justuru kurang percaya. Dan itu bukan tanpa alasan, hal itu baru bisa kubuktikan saat aku lulus dan mencari kerja. Alhamdulillah! Diterima kerja kantoran. Siapapun yang mendengar kerja kantoran pasti kesannya wah dan keren. Siapa gitu yang tidak mau kerja di ruangan AC, di depan komputer, pulang jam lima dan sabtu-minggu libur.

Pekerjaanku sih tidak terlalu rumit dan lingkungannya pun cukup membuatku nyaman. Tapi sayangnya aku dinyatakan TIDAK LULUS EVALUASI. Kenapa saudara-saudara? Ini karena faktor internal yakni attitude. Aku masih membawa sifat anak sekolahku yang senang bermain, tidak bisa serius dan lain-lain. sebuah kenyataan yang menyedihkan dimana ternyata temanku lah yang diterima. Aku pulang dengan membawa semua kekecewaan, penilaian itu memang tidak salah tapi rasanya sulit menerima. Alhasil aku menganggur beberapa bulan, kerjaanku di rumah cuma makan-online-tidur. Tapi herannya aku tetap punya sibuk dengan beberapa acara atau ajakan main yang entah datang secara ajaib. Inilah yang disebut Pengacara (pengangguran banyak acara).

Tapi tidak bisa begini terus donk! Aku harus bergerak. Maka dikarenakan itu aku mencoba melamar sebagai SPM (Sales Promotion Man) di sebuah ritel handphone. Awalnya aku merasa pekerjaan sebagai SPM/SPG itu pekerjaan yang rendah dan memalukan. Tapi setelah aku menyelaminya ternyata seru juga. Aku jadi punya banyak teman dan mengetahui hitam-putihnya dunia ritel. Dan satu hal yang membuatku heran, ketika aku terjun di dunia kerja yang ini aku jadi jauh lebih kalem dan dewasa. 180 derajat berbeda saat di kantor. Aneh memang tapi ini kenyataannya.

Paling tidak dengan pekerjaan ini aku ingin belajar berdagang, kan tidak akan selamanya aku kerja dengan orang lain. aku juga ingin punya perusahaan sendiri dengan jabatan sebagai presiden direktur (angan-anganku saat kerja di kantor dulu). Apalagi aku bekerja di tempat handphone yang memang hobiku. Maka semangatku pun makin menggebu-gebu.

Tapi semangatku makin menggebu saat aku bertemu dengan gadis itu. Dia salah satu SPG event printer pindahan dari toko lain karena SPG yang bertugas di tokoku resign. Namanya Nisa, dia tampak cantik mengenakan kerudung dan seragam kerjanya yang berwarna hitam. Tapi saat itu aku sedang tidak terlalu ada rasa. Berhubung dia itu anak baru maka aku sering-sering saja mengajak dia ngobrol. Dan Nisa anak yang enak diajak ngobrol.

Rasa itu malah semakin nyata saat salah satu temanku menceletukiku.
“di, lu gak nyari pacar?”
“enggak,” jawabku malas sambil mengecek lembar stok.
“tuh Nisa cakep, jadiin aja gih!”
“gue lagi gak napsu ama cewek,” jawabku asal.
Sialnya ada malaikat lewat dan mencatatnya. Aku jadi mulai ada perasaan lebih kepada Nisa.

Aku masih mencoba dekat dengan Nisa hingga pada akhirnya aku harus mengubur dalam-dalam perasaanku. Ada beberapa kenyataan menyakitkan yang melatar belakangi pertama Nisa sudah punya monyet (baca: pacar), kedua Nisa itu sebenarnya anak orang kaya yang iseng-iseng mencoba kerja jadi SPG (aku dan Nisa beda kasta) dan yang ketiga aku bukan siapa-siapa. Terlebih lagi aku merasa hubunganku dengan Nisa makin merenggang. Entah dia yang semakin menjauh atau cuma perasaanku. Tapi kalau memang ini cuma perasaanku kenapa terasa begitu nyata ya?

Aku makin yakin Nisa memang menjauh dariku, padahal dulu aku dan dia begitu dekat. Kalau istirahat bareng, ngobrol ini-itu sampai ngalor ngidul, menggosipi orang aneh yang datang di toko. Apa Nisa sudah tau perasaanku kepadanya ya? memang aku tidak ragu jujur kepada kawan-kawanku bahwa aku punya rasa terhadap Nisa. Aku mendadak galau, dan sifat jelekku keluar: jika seseorang menjauh maka aku pun akan menjauh juga, bahkan cenderung bersikap dingin. Kadang saat Nisa sedang mampir di stan ku, aku cuma cuek tanpa menyapa atau sekedar basa-basi. Sampai-sampai temanku menegur.
“lu kenapa sih di? Kayaknya sensi banget ama Nisa?”
“gak apa-apa kok, biasa aja.” Jawabku cuek plus bohong.
(terkadang kalau ingat saat itu, aku amat sangat menyesal. Kenapa aku begitu egois dan kekanak-kanakan)

Aku mengamati wajahku di cermin berkali-kali, ada yang bilang aku manis tapi itu juga emak-emak. Bisa dibilang wajahku ini terlalu biasa khas orang kampung. Kulitku tidak putih bahkan cenderung gelap. Berbanding terbalik dengan Nisa yang putih mulus dan terawat. Kalau ada James Blunt dia akan menyanyikan lagu You’re Beautiful sekaligus untuk menyindirku:

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.

but it’s time to face the truth,
'Cause I'll never be with you.

Yeah! Kamu begitu cantik dan sempurna, namun aku tak akan mungkin bersamamu. Aku harus menerima kenyataan meskipun sangat pahit. Jadilah lelaki yang dewasa!

Hingga Nisa di penghujung habis kontrak di bulan November tidak diteruskan karena niat mulianya yang kuliah. Hubunganku dengan Nisa cuma begitu-begitu saja, tak ada lebih dari teman satu toko. Aku kadang cuma bisa mengamatinya dari tempatku saat Nisa sedang mengambil merapikan display produknya. Aku cuma bisa tersenyum dan berkata dalam hati, kamu pantas mendapatkan yang seribu kali jauh lebih baik dariku.

“good luck ya sa, mau kuliah di IKJ nih..” godaku sembari menjabat tangannya.
“hehe, iya nih di. Makasih ya, by the way kapan nih lu kuliah juga?”
“kapan kapan sajalah,” jawabku enteng. “masih mau cari duit dulu, mau bikin usaha suatu hari nanti..”
“okeh, kalo udah jadi bos ajak-ajak gue ya..” ujar Nisa sambil nyengir.
“beres,” jawabku sambil mengancungkan jempol.
Nisa tersenyum, dia tampak begitu high class mengenakan blezer cokelat dan kontak lens berwarna hitam. Saat itu sudah jam pulang, dia berniat membeli panggangan barbekue dua unit pula. Nisa bilang untuk mama nya.
Sekarang dia pergi, aku tak akan bisa melihatnya beraktifitas lagi di toko. Aku pasti akan merindukannya.

Diam-diam di facebook aku membuat sebuah album dimana hanya aku yang bisa buka. Album itu ku beri nama ‘gak semua boleh liat’. Itu sebuah album khusus yang kuisi foto Nisa, foto yang ku bluetooth diam-diam dari ponselnya. Dan juga beberapa fotonya yang ku jepret dengan ponselku. Ada satu foto Nisa yang kuambil saat dia dalam posisi yang tidak siap, aku memfotonya secara tiba-tiba. Tapi karena memang dasarnya Nisa itu cantik maka dia di foto itu justru terlihat seksi dan cantik. Aku tak bosan-bosannya memandangi foto itu. seandainya saja waktu bisa diputar lagi (galau).

***

Life must go on! Begitulah prinsipku, simpan dulu masa lalu di album kenangan. Aku beberapa kali pindah kerja. Maklum aku kan orangnya gampang bosan. Aku selalu mencari yang lebih baik dan kupikir hal itu manusiawi. Aku melihat ibuku yang tengah berdoa saat selesai sholat, beliau selalu mendoakanku yang agar jadi yang terbaik. Tanpa kehadiran Ayah, kehidupan kami memang sedikit oleng terbentur kebutuhan ekonomi yang makin menjadi namun Ibu tetap tidak menyerah. Ibu sudah cukup menjalani kehidupan yang susah dan aku sebagai anak yang berbakti ingin beliau hidup serba berkecukupan. Aku akan berusaha keras demi ibuku. Percuma memegang ijazah SMK jika ilmu entrepreneurship nya tak bisa kugunakan dengan maksimal.

Aku sudah bertekad untuk menjadi orang. Sebagian gajiku sudah kusisihkan untuk modal. Bukan modal kawin tapi modal usaha, kalau modalnya sudah ada kan mau bikin usaha apa saja jadi lebih mudah. Teringat kata-kata guru wirausahaku dulu, gunakanlah prinsip orang china! Untung seribu yang dimakan sepuluh persennya sedang yang sembilan puluh persen ditabung. Mantap sekali, pantas saja orang china cepat kaya. Tidak lupa satu petuah penting: jika anda akan membangun sebuah usaha, anda harus punya modal cadangan. Katakanlah modalnya lima puluh juta maka anda harus punya lima puluh juta lagi sebagai cadangannya. Kedengarannya berat tapi jadi semacam tantangan tersendiri buatku.

Memang sih gonta-ganti pekerjaan itu kesannya seperti orang yang tidak punya pendirian. Tapi kalau memang sudah tidak betah atau ada peluang yang jauh lebih baik, sah-sah saja kan? Aku memang terus mengeksplorasi diri, aku sempat menjajal ritel aksesoris komputer tapi ternyata memang jiwaku itu jiwa penjual handphone jadi akhirnya balik lagi ke asal. Jujur rasanya beda feelnya saat menjelaskan spek handphone dengan spek kalkulator :p.

Dengan niat lillahita’ala aku berhasil mengumpulkan modal (plus modal cadangannya), nominalnya tak perlu kupaparkan. Sekarang tinggal memilih usahanya apa. Jualan makanan jujur aku kurang begitu minat sebab makanan itu benda yang kadaluarsanya cepat. Kalau pulsa terlalu banyak saingan disana-sini begitu pula toko kelontong. Inginnya sih terjun di bidang advertising, karena aku pribadi senang persaingan periklanan tapi sekarang aku sudah tidak hobi menggambar, repot deh perkaranya. Atas saran seorang teman aku (bismillah) membuka usaha toko aksesoris dan busana wanita. Kenapa wanita? Sebab menilik situasi jaman sekarang wanita jumlahnya lebih banyak dari laki-laki dan wanita lebih royal daripada laki-laki. Dan berhubung bidang yang ini aku masih awam aku menggandeng teman sekolahku dulu yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia seperti ini. namanya Doni Adrian, dia orang Padang.

Kalian tau sendirilah telaten dan pandainya orang padang meski pada awal bertemu Doni kesan itu tak terlalu terlihat. Tapi aku yakin dengan kemampuan Doni. Dia mengurus pembelian barang-barang, memilah yang potensial dan deal dengan supliernya. Dan aku sebagai anak yang kreatif (lempar bedug masjid) aku yang mengurus promosi dan iklan. Sambil belajar dari kakakku yang jago mendesai brosur aku membuat brosur dengan kreatifitasku sendiri. Meski hasilnya tidak sebagus buatan kakakku tapi aku puas. Tidak lupa dengan kecanggihan jaman aku memperluas jaringan tokoku lewat jejaring sosial dan blog. Pokoknya aku gencar memperkenalkan produk-produkku.

Untuk urusan tempat, berhubung modalnya masih katagori modal awal, maka kami berjualan secara dunia maya saja dulu. Sebab menyewa lapak di semacam ITC atau tempat butuh dana yang tidak sedikit. Kalaupun ada yang murah paling-paling di tempat yang pojok dan sepi. Karena itulah page facebook dan blog sangat aku andalkan sebagai media. Atau di beberapa pilihan aku mendatangi customer langsung dan memberikan jasa delivery. Memang sih agak sesuatu tapi hal ini aku lakoni dengan sepenuh hati

Pekerjaan antar-mengantar ini bergantian-gantian aku dan Doni lakoni. Terkadang aku suka bilang begini ke Doni,
“don, masak direktur kerjanya nganter-nganter barang begini..”
“jiaelah sep, gak apa-apalah,” sahut Doni. “kan direktur kurir.”
Dan Doni pun tertawa terbahak-bahak. Doni itu memang punya selera humor yang agak beda. Biarlah suka-suka dia, di sekolah dulu dia sering jadi bahan cengan.

Aku masih mencoba bernegosiasi dengan keluargaku untuk menyewa ruko keluarga yang posisinya cukup strategis. Sayang masih agak susah sih, sebab penyewa yang sekarang sepertinya betah dengan ruko itu.

Aku sendiri pun tidak pasif, sambil berjalan aku juga belajar dari Doni supaya aku tidak bego-bego amat. Untuk awal-awal usaha aku paham, pastinya tidak akan semudah yang ada di bayanganku. Ada beberapa masalah-masalah yang biasa terjadi pada pemula macam aku dan Doni. Saat itu aku dan Doni sedang menyelesaikan buku besar.
“untuk bulan ini kita belum mencapai untung, sep..” ujar Doni sembari mengisi buku besar piutang. “belond balik modal.”
“it’s okay, masih ada bulan selanjutnya. We have to fight more and more,” ujarku sambil nyengir.
“yes yes mister,” jawab Doni asal, dia memang paling tidak bisa bahasa inggris dari jaman sekolah sampai sekarang.
Aku cuma menahan tawa, aku sebenarnya orang yang agak pesimis tapi ini baru permulaan dan masih ada bulan-bulan selanjutnya. Toh yang namanya kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda. Kita bisa belajar dari kegagalan. Yeah! Dunia ini sebenarnya banyak kebaikan, hanya saja manusianya yang memandang negatif duluan.

Kami sempat hampir tertipu oleh seseorang yang memborong barang dalam jumlah banyak. Orang itu membayar dengan cek. Kalau saja Doni tidak jeli dan menyadari ada yang tidak beres dengan cek tersebut. Tumben juga dia yang biasanya cuma iya-iya doank. Sayangnya orang itu keburu kabaur sebelum masalah ini ku perkarakan.
“jadi pelajaran sep,” ujar Doni sok bijak.
“iya don,” jawabku dengan nada tidak ikhlas.
Aku dan Doni sama-sama diam merenung, Tuhan masih baik kepada kami sehingga kami lolos dari musibah.
“kita kayaknya kurang dekat ama Tuhan Don,” gumamku gantian sok bijak.
“iye bener sep,” sahut Doni.
Kami terdiam lagi hingga aku bangkit dan ijin mau sholat.
“cepet ya sep! biar gantian,” ujar Doni ketika aku mengambil sendalku.
Wah! Tidak biasanya Doni minta gantian sholat.

Dan untuk bulan kedua, ketiga dan seterusnya usahaku makin membaik. Aku terus memutar otak untuk mencoba strategi yang lain daripada yang lain, atau bahasa orang HRD: keluar dari kotak. Tidak lupa aku sedikit memata-matai dan mencari informasi tentang produk kompetitor. Kadang menyamar, menyewa orang lain dan sebagainya. Sah-sah saja kan? Toh aku tidak mencuri informasi rahasia tapi mempelajari situasi, hehehe. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya jadi bosku yang di kantor dulu. Dia harus memutar otak dan memikirkan strategi jitu untuk mempertahankan bisnis yang telah dia bangun dengan susah payah dulu. Ku akui bosku itu memang orang yang hebat (kalo gak hebat gak mungkin jadi bos).

Selama beberapa bulan terakhir aku dan Doni kerja gila-gilaan. Alhamdulillah, semua tidak sia-sia. Usaha kami maju pesat, yeaaaah!! Setidaknya kuhitung-hitung kami sudah memiliki tujuh belas customer loyal. Tujuh belas itu adalah orang-orang yang selalu membeli dalam jumlah besar. Dengan kata lain mereka percaya dengan layanan kami. Kalian tau rasanya memiliki customer loyal, rasanya keren deh. Dengan modal yang sudah lebih aku dan Doni sudah berani menyewa lapak di tempat macam ITC (lupakan soal menyewa ruko keluarga). lapak yang kami sewa cukup ramai dan strategis. Tinggal kami makin gencar melebarkan sayap saja. aku dan Doni jaganya berdua, untuk saat ini kami belum perlu menyewa orang untuk jadi pramuniaga.

“don, kalo ini usaha makin lebar gue pengen sekalian punya konter hape ah!” gumamku sambil berkhayal.
“iya itu gampang, yang penting lu seriusin dulu sampai kita punya cabang di setiap kota di Indonesia..” jawab Doni sedang menghitung-hitung dengan kalkulator, entah apa yang dia hitung.
“siplah!” gumamku makin menggila dalam khayalan.
Eitz! Jangan terlalu tinggi mengkhayal, tapi bermimpilah! Tiba-tiba aku teringat pesan guruku (masih guru yang sama yakni guru kewirausahaanku itu) saat merintis usaha kita jangan sampai lupa kepada Yang Maha Kuasa dan orang-orang kecil diantara mereka. Konon orang-orang kecil itu doanya yang paling cepat diijabah oleh Tuhan. Hampir saja aku lupa dan jadi menyombongkan diri. Tuhan, aku tidak akan lupa kepadaMu dan kumohon jangan biarkan aku lupa Engkau.

Aku dan Doni pun menyempatkan diri untuk berpartisipasi di acara semacam santunan anak yatim. Dengan kontribusi Feri dan teman-temannya yang memang rutin menjalankan acara ini. Tadinya hanya aku saja yang akan menghadiri acara tapi kupaksa saja Doni supaya ikut.
“gue gak mau tau, lu mesti ikut don! Kalo cuma gue yang berdoa kurang mantap,”
“gue doain kok dari tempat kerja,” kilah Doni.
“pokoknya lu ikut!” aku tetap ngotot. “ingat dulu kita berhasil lolos dari penipuan cek itu!”
Doni pun menyerah (dia memang selalu kalah kalau berdebat denganku).

Biarlah toko dibukanya telat, toh memohon ridho kepada Ilahi kapan lagi? kalau ditunda-tunda terus yang ada tidak akan terlaksana. Lagi pula melihat anak-anak yatim bergembira menerima pemberian kita itu menjadi sebuah kepuasan batin tersendiri. Karena aku sendiri pernah menjadi anak yatim dan tau apa yang mereka rasakan.
“berdoa yang khusyuk dan ikhlas don,” bisikku kepada Doni saat acara sesi doa.
“iye bawel,” jawab Doni.

***

Satu tahun sudah aku menjalani usaha toko aksesoris dan busana kaum hawa ini. kehidupanku alhamdulillah sudah semakin meningkat dan begitu pula si Doni. Serta niat muliaku untuk membahagiakan ibuku mulai terealisasi setidaknya dalam sebulan aku, kakak dan ibuku jalan-jalan. Entah di Jakarta atau kemana gitu yang penting bersama. Untuk saat ini aku cukup puas dan mengucap alhamdulillah. Aku tidak mungkin bisa mencapai posisi seperti yang sekarang kalau bukan rahmat dan kuasa dariNya.

Oh iya aku belum menyebutkan nama toko ini, aku memberi nama toko Samudera An-Nisa. Bagus bukan? meski Doni kurang setuju karena kurang pas dengan tema (kuakui begitu sih). Dan aku sebagai orang yang iseng dengan kreatifitas sendiri mencoba-coba mendesain baju, melihat tren jaman sekarang. sedang Doni berpikiran untuk memasukan busana dan aksesoris untuk pria juga supaya tidak melulu bertemakan wanita.
“sep, gue beli makanan di bawah dulu ya..” ujar Doni. “lu mau nitip gak?”
“gado-gado tanpa toge tanpa pare bumbunya sedikit aja,” jawabku tanpa menoleh ke arah Doni, aku masih sengit dengan desain baju yang sedang kurancang. “pake duit lu dulu ya don.”
“iya bos!” jawab Doni kemudian melengos pergi.

Aku kembali melanjutkan mendesain, sekarang mendesain bawahannya. Aku senang model celana jeans tapi bukan yang ketat dengan warna gelap. Baru menggores pinggiran jeans ada suara customer memanggilku.
“mas ada baju yang model anu gak?” tanya si customer yang seorang wanita.
“ada, barangnya tinggal dua tapi..” jawabku sambil menoleh ke arahnya.
Beberapa detik kemudian aku terperajat kaget, entah harus senang atau sedih. Di hadapanku berdiri seorang Nisa. Gaya berpakaiannya masih sama seperti terakhir aku bertemu dia, high class dan anggun. Rambutnya dibiarkan digerai dengan indah dengan kontak lens berwarna hitam berbintik. Sekilas Nisa seperti bidadari yang ingin membeli baju di tokoku. Tapi Nisa tidak sendirian, dia bersama seseorang di belakangnya seorang laki-laki yang bertubuh lumayan tinggi dan atletis disertai wajah yang tampan. Kalau dilihat Nisa dan laki-laki itu tampak serasi jika jalan bareng.
“boleh liat yang tinggal dua itu?” tanya Nisa.

Sepertinya dia tidak mengenaliku, sudah lama sekali kami tidak bertemu. Baik facebook ataupun twitter apalagi kontak BBM kami tidak terhubung sama sekali. Aku langsung mengambilkan barang yang dia inginkan dan kupaparkan di hadapannya. Aku masih berharap laki-laki itu bukan pacarnya Nisa.
“bagusan mana beb menurut kamu?” tanya Nisa sambil tersenyum kepada laki-laki itu.
Si beb tampak berpikir sebentar, dia langsung menunjuk yang berwarna hijau rumput. Dan tanpa ragu Nisa memilih yang ditunjuk si beb nya itu.
“tolong yang ini ya mas, berapa?”
“seratus lima puluh ribu,”
“okeh,” jawab Nisa tanpa tawar menawar lagi.
Aku membungkuskan baju itu dengan lemas, beberapa kali kulirik mereka berdua yang tampak mengobrol dengan akrab. Si beb itu tampak menyadari aku memperhatikan Nisa, wajar donk Nisa tuh cakep bro!
“okeh, terima kasih sudah berbelanja di Samudra An-Nisa..” ujarku dengan nada kurang semangat.
“sama-sama,” jawab Nisa, dia mengamatiku sebentar. “mas, kayaknya gak asing deh. kita pernah ketemu gak?”

Aku menatapnya lurus kemudian melirik si beb lalu balik ke Nisa lagi.
“enggak mbak, perasaan mba aja kali. Muka saya emang agak pasaran..” jawabku.
“hmm mungkin kali ya,” jawab Nisa mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk. “makasih ya mas.”
“sama-sama,”

Mereka pun melengos pergi dan kembali ngobrol mesra sambil berpegangan tangan. Pupus deh harapanku kepada Nisa. Sepertinya memang bukan jodoh untukku. Aku tidak melanjutkan menggambar rancangan busanaku, kusimpan saja di laci. Beberapa menit kemudian Doni datang membawa makanan, rupanya dia tidak lupa membeli minumannya.
“nape lu sep, cemberut aja kayak marmut?” goda Doni sembari mengambil tatakan piring untuk nasi bungkusnya.
“gak apa-apa don,” jawabku menghela nafas panjang. “lagi gak mood aja.”
“oooouh..” jawab Doni ber-o panjang kemudian mulai menyantap makanannya.
Aku sendiri kembali sibuk dengan oret-oretan itu, gado-gadonya ku biarkan saja dulu. Nafsu makanku surut sejak tadi.
“itu gado-gado gak lu makan sep?” tanya Doni dengan mulut penuh yang tak berhenti mengunyah.
“entar don, belond laper..”
“cewek banyak di dunia ini sep, masih banyak yang nungguin lo! Tenang aja..” tambah Doni. “yang penting lu jadi orang dulu.”
“hah?!” aku merespon lambat. Apa Doni bisa membaca pikiranku ya? ah! Sudahlah dia terlalu ajaib untuk ditebak-tebak, meski kata-katanya tadi itu tidak salah juga.

Nisa memang pantas mendapatkan cowok itu, si beb. Karena dia cantik dan pacarnya ganteng, serasi. Sedang denganku paling-paling orang akan berkata di belakang, cowoknya pake pelet yang ampuh. Sampai kapan pun bumi tidak akan bisa menyentuh langit kecuali terjadi kiamat. Aku teringat salah satu petuah yang kubaca di sebuah buku.

"Anda bukannya tidak pantas mendapatkan yang anda mau tapi anda pantas mendapatkan yang lebih."

Bagus sekali kata-kata itu, maknanya begitu dalam dan memotivasi. Yeah! Pas sekali kan denganku? mungkin kelak aku akan bertemu orang yang jauh lebih baik. Aku cuma perlu bersabar dan menunggu. Toh jadi jomblo tidak terlalu buruk juga. Aku adalah jomblo yang sedang menuju kesuksesan, yeaaah!

Dan hingga cerita ini kubuat, aku cuma bisa mengenang seorang Nisa di album kenangan ku. Satu hal yang ingin ku katakan kepadanya kelak, “terima kasih telah membuat hidupku berwarna meski hanya sesaat,”

0 komentar:

Posting Komentar

kirim cerita

Buat temen2 yg kepingin ceritanya dimuat di blog ini, silahkan kirim ceritanya ke aldhyaditya@gmail.com Dan semua cerita yg masuk ke email aldhy menjadi hak milik aldhy, sehingga aldhy berhak mengubah cerita yang masuk. Terima Kasih

Lencana Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
hidup ini adalah anugrah, maka cintailah hidup ini dengan sebaik - baiknya.