Cinta Tak Harus Memiliki


by: Aldy
Hidup tak selama seperti dulu, hari berganti menjadi minggu dan minggu bertambah menjadi bulan, tahun pun menjelang untuk menyelaraskan waktu ini.  semenjak bertemu dengan dia hidupku berubah secara signifikan, perubahan itu tidak membuat ku seperti dulu yang selalu terkukung dalam kebekuan, yang selalu menyendiri hanya ditemani fasilitas internet yang sangat memadai dari orang tuaku, semua fasilitas yang aku butuhkan sangat terpenuhi, sehingga aku begitu jauh dari teman – teman sepermainan ku, bahkan predikat “sombong” sudah melekat di diriku sewaktu SMP.  Aku sebenarnya bukan tipe orang yang seperti mereka pikirkan, waktu hanya aku habis untuk hal – hal yang berguna, hal –hal yang dapat membuat ku berprestasi disekolah.
SMA menjelang, dengan mengantongi nilai tinggi aku diterima disekolah terbaik dikota ku, MOS (Masa Orientasi Siswa) hari pertama di mulai, disinilah ajang perpeloncoan oleh  kakak kelas berlangsung, entah siapa yang memulai tradisi seperti ini dulunya, sehingga siswa baru pasti dijahili. Tapi kegiatan inilah yang selalu mewarnai setiap penerimaan siswa baru.
“hai….gue Rama” sosok itu berdiri dihadapan ku sambil mengacungkan tangannnya, senyumnya terukir indah diwajah tirusnya.
“hhhai…gue Nino” dengan gelagapan aku mencoba membalas jabatan tangannya.
“kita satu kelompokan? “ tanya Rama sambil menunjuk kertas karton yang  bertuliskan “ Keong Racun” yang menggantung dileher ku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan seadanya, itulah aku, Nino Dias Nugraha,  orang yang sulit untuk mengakrabkan diri dengan orang lain, apalagi orang yang baru aku kenal seperti Rama. Tak ayal predikat sombong selalu melekat dihidupku.
Akhirnya MOS berakhir juga, selalu ada pengalaman seru yang tak terlupakan dalam setiap tahunnya, pastinya pengalaman dikerjai oleh kakak – kakak kelas. Aku juga mendapatkan pengalaman berharga setelah ketemu Rama, selain memiliki hobby yang sama, ternyata Rama dapat membuka mata hati ku yang beku untuk  bisa merasakan indahnya persahabatan, untuk bisa melihat indahnya dunia. Rama adalah sahabat pertama ku dalam hidup ini, aku banyak melakukan perubahan setelah masuk SMA, tidak hanya berkutit dengan internet dan dunia maya, kini aku ada di dunia nyata, dunia yang penuh warna dan cinta.
Ramadhan Putra Utama, itulah nama lengkapnya, parasnya rupawan dengan postur tubuh yang tingginya sekitar 180 cm,  terlahir dari keluarga yang berada tapi tidak membuatnya menjadi sombong, Rama anak pertama dari dua bersaudara, hidupnya dikelilingi oleh orang – orang yang sangat mencintainya, selain mempunyai rasa empati yang besar bagi sesama, Rama juga sangat dewasa, tidak seperti anak seumuran pada umumnya. Sosoknya yang tegas tapi supel dan ramah membuatnya mudah bergaul dengan siapapun. Banyak murid – murid wanita yang mengidolakannya, bahkan tak segan  - segang mengatakan cinta kepadanya, dengan popularitas dan otaknya yang pintar tak ayal Rama terpilih menjadi ketua OSIS untuk tahun ajaran baru.
Persahabatan ku dengan Rama semakin akrab, walapun kami terpisahkan oleh kelas yang berbeda, tapi kami mengambil kegiatan ekstarkulikuler yang sama yaitu futsal dan badminton, dan yang pastinya kelas musik, karena musik adalah sebagian dari hidup kami. Aku pencinta warna gelap sedangkan Rama pencinta warna terang, kami seolah saling melengkapi, Rama juga memiliki sikap  dan tatakrama yang bagus, makanya ibu suka sekali dengannya setiap dia main kerumah ku, bahkan ibu tidak segan – segannya menitipkan aku pada Rama saat aku berada di luar. Rama selalu memberi ku motivasi dan semangat, semua sifat lama ku terkikis seiring intens nya pertemuan kami. Hubungan kami begitu dekat sudah seperti saudara, bahkan Rama sering menginap dirumah ku jika hari libur, dan aku juga seperti itu, keluarganya begitu baik pada ku. Tidak ada rahasia di antara kami berdua, Rama selalu cerita jika dia sedang dekat atau suka dengen cewek disekolah, bahkan Rama sempat jadian dengan salah satu cewek disekolah, sayangnya hubungan mereka tidak berlangsung lama.
Hari ini sangat melelahkan, futsal membuat seluruh tenaga ku terkuras habis, capek banget tapi sangat menyenangkan. Waktu menunjukan pukul 21.15 Wib, karena besok hari libur, aku punya sedikit waktu luang malam ini. Tiba – tiba Rama menarik tangan ku dan membawa ku kedalam mobilnya. Dengan Honda Jazz putihnya, Rama mengajak ku kedaerah perbukitan hutan pinus di daerah Tasikmalaya, udaranya sangat sejuk dan segar, lelah ku seketika berkurang. Ku rebakahkan tubuh ku diatas hamparan rumput yang hijau, memandangi langit malam yang cerah, bintang pun dengan indah memancarkan cahayanya malam ini.
“ini tempat favorit gue kalo lagi suntuk” Rama memecahkan keheningan.
“keren….gue belum pernah kesini, apalagi malam – malam gini” aku begitu mengagumi tempat ini, tuhan memang pencipta ulung, semua karyanya selalu tercipta dengan sangat sempurna.  Rama telah duduk disamping ku dan menatap tajam kearah ku, seolah – olah mencari titik terdalam dari diriku, tatapannya membuat ku risih, ku edarkan kembali pandangan ku ke langit yang membentang. Angin berhembus dengan lembutnya, udara dingin menyeruak menusuk kulit ku, tubuh ku yang kuyub akan keringat sehabis main futsal tadi tak kuasa menahan dinginnya.
“dingin ya? “ Rama menyodorkan baju dingin berjenis cardigan yang ada ditangannya. Aku menatapnya sesaat, senyum manis menghiasi  wajah tampannya, senyum yang sangat digila –gilai oleh cewek – cewek disekolah, tapi aku tidak menghiraukan senyum itu. Kembali ku rebahkan tubuhku, tidak tahu kenapa aku selalu terhipnotis dengan suasana yang tenang seperti ini dan rasa kantuk mulai menyerang ku, kupejamkan mata ini.
BUUkKKKKKK….tanpa sadar pukulan ku mendarat diwajah tampan Rama, Rama tidak siap menerima pukulan ku sehingga dia terjerembab dan meringis kesakitan. Aku berlari ditengah kegelapan malam meninggalkannya, tidak ada satu orang pun disini, hanya ada barisan pohon pinus yang menjulang tinggi seolah ingin menggapai angkasa. Tenaga ku terlalu sedikit untuk berlari lebih jauh lagi, Rama berhasil mengejarku dan menyuruh ku masuk kedalam mobilnya. Terfikir untuk lari lagi darinya, tapi apa aku bisa selamat sampai rumah ditengah hutan pinus ini? Akhirnya ku mengalah demi keselamtan ku. Waktu sudah menunjukan pukul 23.55 Wib, mobil berjalan perlahan di ruas jalan yang sudah mulai sepi dari kendaraan lain.
“maafin gue No” Rama memulai pembicaaran setelah terjadi perang dingin diantara kita.
“sumpah gue nggak bermaksud macem –macem ma lo”.
“WHATTT……nggak bermaksud macem – macem kata lo? trus apa maksud lo meluk gue tiba – tiba?” kemarahan ku memuncak kembali.
“gue pikir kita sahabat Ram….”
“tapi lo udah ngelakuin hal yang nggak pantes….kita sama – sama cowok Ram”
“tapi gue sayang sama lo No” kata – kata itu membuat kami terdiam membisu, panas kuping ini mendengarnya, tapi  malas untuk membalasnya, sudah cukup lelah jiwa dan raga ini. terdengar sayup – sayup Rama menangis, tapi semua itu tidak membuat ku simpati kepadanya, bahkan hanya kebencian yang mengeras dalam dada.
Setelah kejadian malam itu aku berusaha menghindar dari Rama, aku kembali menyendiri, tenggelam dalam tanda tanya besar yang masih menggantung dalam benak ku, persahabatan kami tercoreng oleh cinta yang tak semestinya tumbuh diantara kami. Cinta yang tak pantas ada, karena aku pria normal.
Aku mencoba melewati hari  - hari tanpa Rama, tapi semua ini terasa hambar, tidak ada lagi canda tawa yang selalu menghiasi perjalanan kami, tidak ada lagi orang  yang selalu memberi ku semangat. Dunia ini terasa sepi, warnanya mulai memudar dipandangan ku.
Pukul 14.45 Wib. Hujan begitu deras hari ini, terpaksa aku batalkan niat ku untuk pulang cepat, kucoba keperpustakaan yang terletak disudut sekolah, ternyata terlalu banyak orang disana, mereka senasib dengan ku, terjebak hujan. Ku putar pandangan ku ke sebuah ruangan yang cukup sepi dari anak – anak sekolah ini. Akhirnya ruang musik ini menjadi pilihan ku untuk menghabiskan waktu menunggu hujan reda.  Ku tekan tuts – tuts piano upright yang bertengger manis di sudut ruangan. Tanpa terasa, sebuah lagu dari A7X yang berjudul “warmness on the soul” mengalun lembut keluar dari bibir ku, setitik cairan bening muncul disudut mataku, lagu itu membuat ku teringat kembali akan indahnya kenangan bersama Rama, membuat ku merasa bersalah padanya.
“apakah aku terlalu kejam padanya” batinku.
Tanpa sadar Rama sudah berdiri disamping ku, dengan wajah yang lusuh Rama mencoba duduk disamping ku. Rama kembali memainkan lagu A7X  yang menjadi lagu favorit kami, dentingan piano kembali mengalun ditemani rintik hujan yang semakin deras seolah  tahu akan kepedihan hati Rama. Rama menangis,  seolah dalam setiap bait lagu itu menggambarkan perasaannya. Hatinya begitu hancur, rasa bersalah menyeruak kembali dalam benak ku.
“sekejam itukah aku” batinku.
Rama benar – benar terlihat berantakan, matanya bengkak, tubuh rapuh.  kepalanya pun jatuh dipundak ku, air matanya terus mengalir, raganya begitu lunglai, tubuhnya panas. Tak lama tatapannya tertuju kepadaku penuh kesedihan dan harapan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku bingung, diam termenung.
“apa aku salah mencintai mu No?” ……hening…..
“apa aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta mu No?” suaranya bergetar, tatapannya tajam kearah ku seolah mencari jawaban dari semua pertanyaannya, air mata terus mengalir. Aku hanya diam membisu, tak satu kata pun mampu aku ucapkan untuk menjawabnya.  Suasana hening kembali, hanya suara hujan yang menemani kami. Tiba – tiba Rama memeluk dan mencium bibir ku, tapi aku tidak berusaha menolaknya, aku menikmati semua kejadian ini. Cintanya Rama telah membuat aku lemah, cintanya telah menghancurkan keyakinan yang selama ini aku pegang.
“apa yang membuat lo seperti ini Ram?” tanya ku setelah keadaan mulai tenang.
“gue juga nggak tau No, rasa ini tumbuh dengan sendirinya”
“gue udah coba untuk menahannya, tapi nggak bisa No” Rama mencoba menjelaskan semuanya, ternyata ada rahasia besar yang selama ini Rama sembunyikan dari aku, bahkan dari semuanya termasuk keluarganya. Rama pernah mendapatkan pelecehan sexsual sewaktu duduk dibangku kelas enam sekolah dasar dulu. Pelecahan itu terjadi saat Rama ikut klub renang, bahkan tidak hanya sekali pelecehan itu terjadi. Rama kecil tidak begitu paham atas kejadian itu semua dan tidak ada keberanian untuknya mengadu.
“sumpah gue malu No”
“malu banget, gue merasa kotor, gue hina,  gue nggak bisa berbuat apa – apa saat itu” tangisnya pecah kembali. Aku memeluk Rama, membiarkannya tenang dalam pelukkan ku. Pengalaman pahit yang selama ini menghantui hidupnya, pengalaman yang ingin dilupakannya.
“makanya selama ini gue selalu shalat, gue selalu berdoa semoga hal ini nggak akan terjadi lagi”.
“gue minta maaf udah buat lo seperti ini, udah bikin lo terlibat sama masa lalu gue yang kelam, maafin gue No” Rama memeluk ku dengan erat.
Sejak saat itu, aku mencoba menjalani hubungan baru dengan Rama sebagai sepasang kekasih, semua ini adalah pilihan sulit bagi ku, tapi Rama adalah sahabat terbaik yang pernah aku milki, dan aku akan sangat bersalah jika membiarkannya hancur dalam kesediahan. Kejadian sepenuhnya bukan kesalahan Rama, tapi kesalahan orang yang sudah membuatnya seperti ini. Mengalami penderitan sendiri selama bertahun – tahun. Rama hanya korban, korban dari orang biadab yang tidak bertanggung jawab. 
Waktu berjalan dengan sangat cepat dan hubungan kami pun baik, tapi semua nilai sekolah ku hancur  dan bahkan beasiswa yang selama ini aku dapatkan nyaris dicabut oleh pihak sekolah. Impianku untuk masuk ke universitas ternama akan sirna. Aku mencoba menceritakan ini dengan Rama dari hati kehati, ternyata Rama mengerti dan kami pun mengakhiri hubungan kami. Kami lebih pantas jadi sahabat. Cinta tidak harus memiliki ungkap Rama saat itu. Rasa bangga ku akan Rama tidak pernah sirna, dia begitu tegar dan tangguh dalam menghadapi semua masalahnya. Pengalaman pahit telah membuatnya lebih dewasa.
Pengumuman kelulusan pun telah usai, kami lulus semua, aku bahagia bisa mempertahankan beasiswa ku. Rama memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan aku kuliah di Bandung. Kesedihan menyelimuti aku dan Rama, tiga tahun kami bersama menjalin suatu hubungan yang penuh liku. Jarak memisahkan kami, aku dan Rama masih bersahabat, kami masih berkomunikasi via telpon atau jejaring sosial, terkadang terbersit rindu akan Rama, rindu akan persahabatan kami, rindu canda tawa renyah yang mengiringi perjalanan kami. Rama, kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki, semoga kamu bisa menjaga dirimu disana.

PENANTIAN SEBUAH MANEKIN


By: Aldy
Malam semakin kelam, udara begitu dingin menusuk kulit. Ku edarkan pandanganku keseluruh penjuru ruko(rumah toko) yang sudah mulai tutup, begitupun ruko tempat aku berdiri. Ruko yang bergaya modern itu hampir 90 persen diisi oleh butik dan distro ternama, ditambah dengan konsep taman yang tersebar disetiap sudut dan halaman depan, membuat ruko ini menjadi sangat menarik untuk dikunjungi. Semua yang datang kesini akan dimanjakan dengan berbagai macam fasilitas pendukung yang bikin betah berlama – lama disini, membuat para pengunjung yang awalnya hanya melihat – lihat menjadi tergoda untuk membeli beberapa model baju terbaru yang disuguhkan oleh butik – butik ternama itu. Satu persatu lampu toko mulai dimatikan, hanya lampu taman yang memang berhadapan dengan toko yang tidak dimatikan, membuat suasana malam sedikit lebih temaram, ditambah hujan mulai turun membahasi bumi ini.
“pria itu lagi” batin ku, setelah melihat sesosok pria yang selalu berdiri memandangiku setiap malam saat toko mulai ditutup. “apa yang sebenarnya dia cari?” pikirku mulai melayang membayangkan apa yang sebenarnya pria itu cari.” apa yang dia inginkan dari toko ini? Apa dia seorang pencuri?” tapi hati ini mulai menyangkalnya. “tidak mungkin dia seorang pencuri? Dia selalu berpenampilan menarik dengan mobil putihnya yang selalu diparkirkan tepat didepan toko ini”.
Siang mulai menjelang, semua aktivitas kembali berjalan, aku tetap berdiri diposisi ku semula,  entah sudah berapa lama aku seperti ini, hari ini aku mengenakan pakaian yang cukup mahal yang saat ini sedang trend dikalangan wanita muda di Indonesia dan mancanegara. Hampir setiap minggu aku berganti pakaian mewah yang ada ditoko ini, tapi semua itu tidak membuat ku merasa menjadi diriku sendiri. Aku terbelenggu oleh kaca etalase yang bening namun tebal ini. Ya…aku hanyalah sebuah manekin,atau patung penghias toko pakaian. Ruang lingkupku hanyalah di etalase toko, selalu dipandang oleh pengunjung tapi tidak pernah lebih sebagai sebuah patung penghias. Aku manekin yang beda dari manekin yang ada ditoko – toko lainnya, wujudku tidak seperti patung, melainkan seperti patung lilin yang berbentuk wanita cantik, begitu persisnya seperti manusia terkandang membuat para pengunjung berdecak kagum, tapa hanya itu tidak lebih.
Aku juga mempunyai perasaan dan penglihatan yang normal layaknya manusia, tapi ragaku tak dapat bergerak, dan aku benar – benar seperti patung. Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Disuatu malam aku tersadar sudah seperti ini, dipajang dietalase sebuah toko dengan pakaian mahal. Ingin rasanya berontak, tapi tidak ada sedikit kekuatan yang aku punya, aku benar – benar terbelenggu dalam raga patung ini. Hanya pria itu saja yang mungkin merasakan ada yang berbeda dari aku sebagai manekin. Tatapannya salalu tertuju pada ku, setiap malam selalu hadir menemaniku hingga fajar menyingsing. Pria itu sangat tampan menurutku, wajahnya yang sedikit oriental tapi berkarakter dengan perawakkan yang atletis, membuatnya begitu sempurna,  tapi terkesan sedikit misterius.
Malam kembali menjelang, pria itu sudah hadir seperti biasanya, disaat semua orang pergi meninggalkan ruko ini, dia hadir menemaniku, tidak pernah absen sekali pun sejak aku sadar akan keberadaannya. Hari ini pakaiannya begitu rapih, terkesan lebih formal, seolah – olah dia baru saja hadir dalam sebuah perayaan berkelas. Tapi anehnya, sekarang dia tidak hanya berdiri memandangi ku dari taman, dia berjalan dan mendekat kearah ku. senyumnya menghiasi wajah tampannya, ada perasaan aneh dalam hati ku, aku merasa jantungku mulai berdetak kencang, aku menjadi salah tingkah. Kini dia sudah tepat berdiri didepan ku, kami saling bertemu berpandang.
Malam ini cukup cerah, bulan begitu sempurna bentuk bulatnya. Warnanya yang putih kebiruan membuat bintang merasa iri padanya, pria itu kembali tersenyum kepada ku, sesekali matanya melirik jam tangan Swiss Armi yang dipakainya, seolah menunggu sesuatu dia kembali melirik jam tangannya. Bulan semakin kokoh bertengger diluasnya angkasa, warnanya semakin cerah menerangi malam ini, tidak ada sejumput awanpun yang berani hadir menghalangi cahayanya.
“malam ini bulan purnama”, pria itu berkata padaku, tangan kekarnya menjulur dan meraih tangan ku, tapi dia bisa menembus tebalnya kaca toko ini. Perlahan sebuah energy marasuki tubuhku, rasa hangat menjalar dalam setiap aliran darahku. Tubuh kaku ku melemas dan aku bisa menggerakan seluruh tubuhku. Pria itu menarikku keluar dari etalase toko, dia mengapit tanganku, membawaku berlari kesebuah taman yang cukup luas, begitu indah taman itu, kami berhenti disebuah air pancur yang cukup besar yang ada ditaman ini. Aku masih bingung akan semua ini,kenapa aku bisa bergarak dan kenapa pria ini bisa membuatku seperti ini.
“malam ini bulan purnama”, sekali lagi pria itu berkata dan seolang ingin menjelaskan sesuatu kepadaku.
“maksud kamu apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa kamu?” pertanyaan itu mengalir deras dari bibir ku, pria itu memandang ku, lalu kembali memandang  bulan. Suasana malam menjadi hening seketika, angin malam berhembus menggerakan rating – rating pohon yang ada ditaman ini.
“tolong jelaskan kepadaku,  apa maksud semua ini?” aku mengguncang tubuh pria itu yang diam mematung.
“kamu adalah Nafhisa, pacarku”. Pria itu kembali terdiam, kali ini wajahnya tertunduk, terdengar suara tangis.
“maksud kamu? Aku Nafhisa dan aku pacar kamu?,  Tidak mungkin, aku hanya sebuah patung penghias toko pakaian. Aku…..”
“kamu manusia, dan kamu hanya terperangakap dalam tubuh patung itu, itu semua salah aku, kamu tidak ingat apa yang terjadi waktu itu? Waktu kita mengunjungi pasar malam disaat bulan purnama empat tahun yang lalu, kamu masih ingat? Semua itu salah aku.” Pria itu jatuh berlutut dihadapanku, tangisnya pecah dan rasa bersalahnya begitu besar. “Maafkan aku”.
“empat tahun yang lalu?” aku mencoba mengingat kejadian itu. Tapi sulit rasanya mengumpulkan semua serpihan yang hancur dalam ingatan ku. aku tidak ingat apa yang terjadi empat tahun yang lalu. “tolong jelaskan semuanya, aku benar – benar tidak mengerti”. Suara ku meninggi dan mencoba menatap wajah pria itu. Pria itu bergeming, tangannya mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
“kartu tarot?” pria itu memberiku empat buah kartu tarot. Seketika pandangan ku kabur, tubuh ini tidak dapat menopang raga ini, aku lemas terkulai, ingatanku mulai bermunculan satu persatu.
“Fhi…bangun, bulan sudah mulai menghilang….Fhi”. teriakan pria itu terdengar sayup – sayup, dia  mengangkat tubuhku dan berlari menyusuri taman kembali ketoko.
Satu tahun setelah kejadian malam itu, pria tampan itu tidak pernah muncul lagi, setiap malam aku berdiri dan menanti kehadirannya, tapi semua sia – sia. Aku saat ini benar – benar sendiri. “Semua ini bukan salah kamu Pram, aku yang egois tidak menuruti kata – kata kamu , aku terlalu percaya dengan wanita itu”. Aku menangis dalam kebekuan. Kebekuan malam yang membuatku mengingat semua yang terjadi empat tahun lalu.
**********************

“hai Pram….nanti malam kita pergi kepasar malam yuk”.
“ngapain kesana? Tumben kamu  suka tempat yang seperti itu? Bukannya kamu paling anti sama hal – hal yang berhubungan dengan dunia kaum menengah kebawah”.
“bukan gitu Pram, aku memang anti dengan hal – hal itu, tapi ada tempat yang harus aku kunjungi disana…..ayolah Pram”.
“oke…aku temanin kamu nanti malam, tapi jangan bikin masalah disana”.
“siiiiiiippppp…..thanks ya Pram”.
Malam ini pasar malamnya tidak terlalu ramai, karena hari ini memang  bukan hari libur, tapi ada beberapa pasangan yang menghabiskan malamnya ditempat seperti ini. Tempat yang sebenarnya tidak disukai oleh Nafhisa. Nafhisa adalah salah satu model ternama, dia hanya mau bergaul dengan kalangan menengah keatas, kehidupannya yang selalu glamor  ditunjang dengan parasnya yang cantik, tak ayal membuat banyak wanita yang iri padanya. Dibalik sosoknya yang angkuh ternyata Nafhisa adalah gadis yang rapuh. Sebenarnya Nafhisa adalah gadis yang baik, dan semua keangkuhannya adalah hasil didikan dari orang tuanya. Orang tuanya selalu mengharap lebih dari Nafhisa, dan selalu memandang rendah kaum kecil.
“kamu cari apa Fhi?” Pram membuka suara setelah melihat pacarnya mondar mandir tidak tentu arah itu.
“aku cari  Black  Side House….nahhh…itu dia,  kesana yuk” Nafhisa menarik tangan Pram dan memasuki kedalam rumah yang terbuat dari kain dan berbentuk kerucut itu, ternyata dalamnya cukup besar, interiornya semua berhubungan dengan dunia mistik, warnanya perpaduan antara merah dan hitam, penerangan hanya menggunakan lilin – lilin besar berwarna merah. Banyak patung – patung seperti manekin berdiri disetiap sudut tempat ini, paras meraka cantik seperti manusia sungguhan.
“Nafhisa”. Sesosok wanita paruh baya muncul dari balik tirai berwarna hitam. Wajahnya tirus dan keriput, rambutnya putih tergerai begitu saja. Suaranya bergetar menandakan dia sudah cukup tua.
“ngapain kita kesini Fhi?” Pram merasa tidak nyaman akan tempat ini dan sosok wanita tua itu.
“tenang aja Pram, nggak akan terjadi apa – apa kok, masuk yuk” Nafhisa mengapit tangan Pram dan membawanya masuk melewati tirai hitam itu.

**************************************

“Fhi…kamu udah gila ya? Kamu percaya sama nenek – nenek itu? Itu namanya Syirik Fhi menduakan Tuhan”.
“tapi Pram , Cuma itu caranya dan aku nggak tau harus gimana lagi, please Pram bantu aku”.
“nggak Fhi, kalo kayak gini caranya mending kamu nggak usah ambil film itu, kamu sama aja bersekutu dengan setan, dan kamu tau resikonya? Kamu mempertaruhkan jiwa kamu kepada iblis itu”.
“aku harus ambil cara itu Pram, hanya itu jalan keluarnya, kamu tau semenjak kita pacaran karir aku benar – benar menurun, karena kamu selalu mengatur aku, selalu nasehatin aku mana yang baik dan yang nggak baik”.
“ohhhh…jadi sekarang kamu menyesal pacaran sama aku? dan kamu mau bersekutu dengan iblis itu? Terserah kamu, satu hal jangan pernah menyesal saat kamu menerima resikonya”.
“baik….aku tidak akan pernah menyesal, toh….jika aku tidak  berhasil mendapatkan tumbal gadis perawan di bulan purnama nanti, aku yang akan mereka ambil dan tidak ada yang akan dirugikan, tapi aku tau aku pasti berhasil mendapatkan itu semua, dan mulai sekarang kita putus, aku tidak membutuhkan kamu lagi Pram”.
“kamu benar – benar sudah gila Fhi”.
Air mata ini mengalir tanpa henti, semua kejadian empat tahun yang lalu tergambar diingatan ku. aku memang bodoh percaya dengan wanita tua itu, karir ku tidak secemerlang yang dia janjikan, bahkan sebelum bulan purnama muncul aku menjadi manikin seperti ini. Ini semua kutukan dari kartu tarot yang wanita tua itu bacakan untuk ku, aku terlalu percaya akan semua ramalannya. Semua itu menyesatkan. “ semua ini bukan salah kamu Pram…..please temani aku lagi….PRAMMMMM……”. tiba – tiba suara ku tercekat, nafasku sesak, aku tidak bisa menopang tubuh ini. Dan
PRAAAAAAAANKKKKK…………..
Tubuh manekinku hancur berkeping – keping. Aku tersadar, tapi dalam tubuh asli ku, aku kembali normal. Betapa senangnya hati ku. Aku berlari meninggalkan toko pakaian itu, berlari dan terus berlari, kupandangi langit, bulan tidak purnama malam ini, tapi kenapa aku bisa bergerak, bahkan tidak dalam tubuh manekinku lagi. Aku melewati taman itu, ku lihat sesosok orang yang ku kenal berdiri memandangi air pancur itu.
“Pram”. Batin ku. aku berlari menghampirinya, dan benar dia adalah Pram, aku memeluk punggungngya. “Pram…aku sudah kembali Pram….Pram lihat aku….Pram”. Pram hanya diam membisu, pandangannya kosong, “PRAMMMMM…..”.suara ku meninggi, tubuh itu berbalik dan….
“TIDAKKKKKKKK……”.tangisku pecah membahana  malam ini. Pram pria yang selama ini hadir menemaniku dalam kekosongan ternyata menggadaikan mata dan jiwanya untuk menebusku. Kini Pram harus rela kehilangan matanya dan mungkin jika waktunya tiba jiwanya akan diambil juga.
“terlalu besar pengorbanan mu buat ku Pram, aku tidak pantas mendapatkannya”.
“Semua ini aku lakukan karna aku mencintaimu Fhi”.
“MAAFKAN AKU PRAM”.



kirim cerita

Buat temen2 yg kepingin ceritanya dimuat di blog ini, silahkan kirim ceritanya ke aldhyaditya@gmail.com Dan semua cerita yg masuk ke email aldhy menjadi hak milik aldhy, sehingga aldhy berhak mengubah cerita yang masuk. Terima Kasih

Lencana Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
hidup ini adalah anugrah, maka cintailah hidup ini dengan sebaik - baiknya.