By: Aldy
Malam semakin kelam, udara begitu dingin menusuk kulit. Ku edarkan pandanganku keseluruh penjuru ruko(rumah toko) yang sudah mulai tutup, begitupun ruko tempat aku berdiri. Ruko yang bergaya modern itu hampir 90 persen diisi oleh butik dan distro ternama, ditambah dengan konsep taman yang tersebar disetiap sudut dan halaman depan, membuat ruko ini menjadi sangat menarik untuk dikunjungi. Semua yang datang kesini akan dimanjakan dengan berbagai macam fasilitas pendukung yang bikin betah berlama – lama disini, membuat para pengunjung yang awalnya hanya melihat – lihat menjadi tergoda untuk membeli beberapa model baju terbaru yang disuguhkan oleh butik – butik ternama itu. Satu persatu lampu toko mulai dimatikan, hanya lampu taman yang memang berhadapan dengan toko yang tidak dimatikan, membuat suasana malam sedikit lebih temaram, ditambah hujan mulai turun membahasi bumi ini.
“pria itu lagi” batin ku, setelah melihat sesosok pria yang selalu berdiri memandangiku setiap malam saat toko mulai ditutup. “apa yang sebenarnya dia cari?” pikirku mulai melayang membayangkan apa yang sebenarnya pria itu cari.” apa yang dia inginkan dari toko ini? Apa dia seorang pencuri?” tapi hati ini mulai menyangkalnya. “tidak mungkin dia seorang pencuri? Dia selalu berpenampilan menarik dengan mobil putihnya yang selalu diparkirkan tepat didepan toko ini”.
Siang mulai menjelang, semua aktivitas kembali berjalan, aku tetap berdiri diposisi ku semula, entah sudah berapa lama aku seperti ini, hari ini aku mengenakan pakaian yang cukup mahal yang saat ini sedang trend dikalangan wanita muda di Indonesia dan mancanegara. Hampir setiap minggu aku berganti pakaian mewah yang ada ditoko ini, tapi semua itu tidak membuat ku merasa menjadi diriku sendiri. Aku terbelenggu oleh kaca etalase yang bening namun tebal ini. Ya…aku hanyalah sebuah manekin,atau patung penghias toko pakaian. Ruang lingkupku hanyalah di etalase toko, selalu dipandang oleh pengunjung tapi tidak pernah lebih sebagai sebuah patung penghias. Aku manekin yang beda dari manekin yang ada ditoko – toko lainnya, wujudku tidak seperti patung, melainkan seperti patung lilin yang berbentuk wanita cantik, begitu persisnya seperti manusia terkandang membuat para pengunjung berdecak kagum, tapa hanya itu tidak lebih.
Aku juga mempunyai perasaan dan penglihatan yang normal layaknya manusia, tapi ragaku tak dapat bergerak, dan aku benar – benar seperti patung. Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Disuatu malam aku tersadar sudah seperti ini, dipajang dietalase sebuah toko dengan pakaian mahal. Ingin rasanya berontak, tapi tidak ada sedikit kekuatan yang aku punya, aku benar – benar terbelenggu dalam raga patung ini. Hanya pria itu saja yang mungkin merasakan ada yang berbeda dari aku sebagai manekin. Tatapannya salalu tertuju pada ku, setiap malam selalu hadir menemaniku hingga fajar menyingsing. Pria itu sangat tampan menurutku, wajahnya yang sedikit oriental tapi berkarakter dengan perawakkan yang atletis, membuatnya begitu sempurna, tapi terkesan sedikit misterius.
Malam kembali menjelang, pria itu sudah hadir seperti biasanya, disaat semua orang pergi meninggalkan ruko ini, dia hadir menemaniku, tidak pernah absen sekali pun sejak aku sadar akan keberadaannya. Hari ini pakaiannya begitu rapih, terkesan lebih formal, seolah – olah dia baru saja hadir dalam sebuah perayaan berkelas. Tapi anehnya, sekarang dia tidak hanya berdiri memandangi ku dari taman, dia berjalan dan mendekat kearah ku. senyumnya menghiasi wajah tampannya, ada perasaan aneh dalam hati ku, aku merasa jantungku mulai berdetak kencang, aku menjadi salah tingkah. Kini dia sudah tepat berdiri didepan ku, kami saling bertemu berpandang.
Malam ini cukup cerah, bulan begitu sempurna bentuk bulatnya. Warnanya yang putih kebiruan membuat bintang merasa iri padanya, pria itu kembali tersenyum kepada ku, sesekali matanya melirik jam tangan Swiss Armi yang dipakainya, seolah menunggu sesuatu dia kembali melirik jam tangannya. Bulan semakin kokoh bertengger diluasnya angkasa, warnanya semakin cerah menerangi malam ini, tidak ada sejumput awanpun yang berani hadir menghalangi cahayanya.
“malam ini bulan purnama”, pria itu berkata padaku, tangan kekarnya menjulur dan meraih tangan ku, tapi dia bisa menembus tebalnya kaca toko ini. Perlahan sebuah energy marasuki tubuhku, rasa hangat menjalar dalam setiap aliran darahku. Tubuh kaku ku melemas dan aku bisa menggerakan seluruh tubuhku. Pria itu menarikku keluar dari etalase toko, dia mengapit tanganku, membawaku berlari kesebuah taman yang cukup luas, begitu indah taman itu, kami berhenti disebuah air pancur yang cukup besar yang ada ditaman ini. Aku masih bingung akan semua ini,kenapa aku bisa bergarak dan kenapa pria ini bisa membuatku seperti ini.
“malam ini bulan purnama”, sekali lagi pria itu berkata dan seolang ingin menjelaskan sesuatu kepadaku.
“maksud kamu apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa kamu?” pertanyaan itu mengalir deras dari bibir ku, pria itu memandang ku, lalu kembali memandang bulan. Suasana malam menjadi hening seketika, angin malam berhembus menggerakan rating – rating pohon yang ada ditaman ini.
“tolong jelaskan kepadaku, apa maksud semua ini?” aku mengguncang tubuh pria itu yang diam mematung.
“kamu adalah Nafhisa, pacarku”. Pria itu kembali terdiam, kali ini wajahnya tertunduk, terdengar suara tangis.
“maksud kamu? Aku Nafhisa dan aku pacar kamu?, Tidak mungkin, aku hanya sebuah patung penghias toko pakaian. Aku…..”
“kamu manusia, dan kamu hanya terperangakap dalam tubuh patung itu, itu semua salah aku, kamu tidak ingat apa yang terjadi waktu itu? Waktu kita mengunjungi pasar malam disaat bulan purnama empat tahun yang lalu, kamu masih ingat? Semua itu salah aku.” Pria itu jatuh berlutut dihadapanku, tangisnya pecah dan rasa bersalahnya begitu besar. “Maafkan aku”.
“empat tahun yang lalu?” aku mencoba mengingat kejadian itu. Tapi sulit rasanya mengumpulkan semua serpihan yang hancur dalam ingatan ku. aku tidak ingat apa yang terjadi empat tahun yang lalu. “tolong jelaskan semuanya, aku benar – benar tidak mengerti”. Suara ku meninggi dan mencoba menatap wajah pria itu. Pria itu bergeming, tangannya mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
“kartu tarot?” pria itu memberiku empat buah kartu tarot. Seketika pandangan ku kabur, tubuh ini tidak dapat menopang raga ini, aku lemas terkulai, ingatanku mulai bermunculan satu persatu.
“Fhi…bangun, bulan sudah mulai menghilang….Fhi”. teriakan pria itu terdengar sayup – sayup, dia mengangkat tubuhku dan berlari menyusuri taman kembali ketoko.
Satu tahun setelah kejadian malam itu, pria tampan itu tidak pernah muncul lagi, setiap malam aku berdiri dan menanti kehadirannya, tapi semua sia – sia. Aku saat ini benar – benar sendiri. “Semua ini bukan salah kamu Pram, aku yang egois tidak menuruti kata – kata kamu , aku terlalu percaya dengan wanita itu”. Aku menangis dalam kebekuan. Kebekuan malam yang membuatku mengingat semua yang terjadi empat tahun lalu.
**********************
“hai Pram….nanti malam kita pergi kepasar malam yuk”.
“ngapain kesana? Tumben kamu suka tempat yang seperti itu? Bukannya kamu paling anti sama hal – hal yang berhubungan dengan dunia kaum menengah kebawah”.
“bukan gitu Pram, aku memang anti dengan hal – hal itu, tapi ada tempat yang harus aku kunjungi disana…..ayolah Pram”.
“oke…aku temanin kamu nanti malam, tapi jangan bikin masalah disana”.
“siiiiiiippppp…..thanks ya Pram”.
Malam ini pasar malamnya tidak terlalu ramai, karena hari ini memang bukan hari libur, tapi ada beberapa pasangan yang menghabiskan malamnya ditempat seperti ini. Tempat yang sebenarnya tidak disukai oleh Nafhisa. Nafhisa adalah salah satu model ternama, dia hanya mau bergaul dengan kalangan menengah keatas, kehidupannya yang selalu glamor ditunjang dengan parasnya yang cantik, tak ayal membuat banyak wanita yang iri padanya. Dibalik sosoknya yang angkuh ternyata Nafhisa adalah gadis yang rapuh. Sebenarnya Nafhisa adalah gadis yang baik, dan semua keangkuhannya adalah hasil didikan dari orang tuanya. Orang tuanya selalu mengharap lebih dari Nafhisa, dan selalu memandang rendah kaum kecil.
“kamu cari apa Fhi?” Pram membuka suara setelah melihat pacarnya mondar mandir tidak tentu arah itu.
“aku cari Black Side House….nahhh…itu dia, kesana yuk” Nafhisa menarik tangan Pram dan memasuki kedalam rumah yang terbuat dari kain dan berbentuk kerucut itu, ternyata dalamnya cukup besar, interiornya semua berhubungan dengan dunia mistik, warnanya perpaduan antara merah dan hitam, penerangan hanya menggunakan lilin – lilin besar berwarna merah. Banyak patung – patung seperti manekin berdiri disetiap sudut tempat ini, paras meraka cantik seperti manusia sungguhan.
“Nafhisa”. Sesosok wanita paruh baya muncul dari balik tirai berwarna hitam. Wajahnya tirus dan keriput, rambutnya putih tergerai begitu saja. Suaranya bergetar menandakan dia sudah cukup tua.
“ngapain kita kesini Fhi?” Pram merasa tidak nyaman akan tempat ini dan sosok wanita tua itu.
“tenang aja Pram, nggak akan terjadi apa – apa kok, masuk yuk” Nafhisa mengapit tangan Pram dan membawanya masuk melewati tirai hitam itu.
**************************************
“Fhi…kamu udah gila ya? Kamu percaya sama nenek – nenek itu? Itu namanya Syirik Fhi menduakan Tuhan”.
“tapi Pram , Cuma itu caranya dan aku nggak tau harus gimana lagi, please Pram bantu aku”.
“nggak Fhi, kalo kayak gini caranya mending kamu nggak usah ambil film itu, kamu sama aja bersekutu dengan setan, dan kamu tau resikonya? Kamu mempertaruhkan jiwa kamu kepada iblis itu”.
“aku harus ambil cara itu Pram, hanya itu jalan keluarnya, kamu tau semenjak kita pacaran karir aku benar – benar menurun, karena kamu selalu mengatur aku, selalu nasehatin aku mana yang baik dan yang nggak baik”.
“ohhhh…jadi sekarang kamu menyesal pacaran sama aku? dan kamu mau bersekutu dengan iblis itu? Terserah kamu, satu hal jangan pernah menyesal saat kamu menerima resikonya”.
“baik….aku tidak akan pernah menyesal, toh….jika aku tidak berhasil mendapatkan tumbal gadis perawan di bulan purnama nanti, aku yang akan mereka ambil dan tidak ada yang akan dirugikan, tapi aku tau aku pasti berhasil mendapatkan itu semua, dan mulai sekarang kita putus, aku tidak membutuhkan kamu lagi Pram”.
“kamu benar – benar sudah gila Fhi”.
Air mata ini mengalir tanpa henti, semua kejadian empat tahun yang lalu tergambar diingatan ku. aku memang bodoh percaya dengan wanita tua itu, karir ku tidak secemerlang yang dia janjikan, bahkan sebelum bulan purnama muncul aku menjadi manikin seperti ini. Ini semua kutukan dari kartu tarot yang wanita tua itu bacakan untuk ku, aku terlalu percaya akan semua ramalannya. Semua itu menyesatkan. “ semua ini bukan salah kamu Pram…..please temani aku lagi….PRAMMMMM……”. tiba – tiba suara ku tercekat, nafasku sesak, aku tidak bisa menopang tubuh ini. Dan
PRAAAAAAAANKKKKK…………..
Tubuh manekinku hancur berkeping – keping. Aku tersadar, tapi dalam tubuh asli ku, aku kembali normal. Betapa senangnya hati ku. Aku berlari meninggalkan toko pakaian itu, berlari dan terus berlari, kupandangi langit, bulan tidak purnama malam ini, tapi kenapa aku bisa bergerak, bahkan tidak dalam tubuh manekinku lagi. Aku melewati taman itu, ku lihat sesosok orang yang ku kenal berdiri memandangi air pancur itu.
“Pram”. Batin ku. aku berlari menghampirinya, dan benar dia adalah Pram, aku memeluk punggungngya. “Pram…aku sudah kembali Pram….Pram lihat aku….Pram”. Pram hanya diam membisu, pandangannya kosong, “PRAMMMMM…..”.suara ku meninggi, tubuh itu berbalik dan….
“TIDAKKKKKKKK……”.tangisku pecah membahana malam ini. Pram pria yang selama ini hadir menemaniku dalam kekosongan ternyata menggadaikan mata dan jiwanya untuk menebusku. Kini Pram harus rela kehilangan matanya dan mungkin jika waktunya tiba jiwanya akan diambil juga.
“terlalu besar pengorbanan mu buat ku Pram, aku tidak pantas mendapatkannya”.
“Semua ini aku lakukan karna aku mencintaimu Fhi”.
“MAAFKAN AKU PRAM”.
0 komentar:
Posting Komentar