by: Aldy
Hidup tak selama seperti dulu, hari berganti menjadi minggu dan minggu bertambah menjadi bulan, tahun pun menjelang untuk menyelaraskan waktu ini. semenjak bertemu dengan dia hidupku berubah secara signifikan, perubahan itu tidak membuat ku seperti dulu yang selalu terkukung dalam kebekuan, yang selalu menyendiri hanya ditemani fasilitas internet yang sangat memadai dari orang tuaku, semua fasilitas yang aku butuhkan sangat terpenuhi, sehingga aku begitu jauh dari teman – teman sepermainan ku, bahkan predikat “sombong” sudah melekat di diriku sewaktu SMP. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang seperti mereka pikirkan, waktu hanya aku habis untuk hal – hal yang berguna, hal –hal yang dapat membuat ku berprestasi disekolah.
SMA menjelang, dengan mengantongi nilai tinggi aku diterima disekolah terbaik dikota ku, MOS (Masa Orientasi Siswa) hari pertama di mulai, disinilah ajang perpeloncoan oleh kakak kelas berlangsung, entah siapa yang memulai tradisi seperti ini dulunya, sehingga siswa baru pasti dijahili. Tapi kegiatan inilah yang selalu mewarnai setiap penerimaan siswa baru.
“hai….gue Rama” sosok itu berdiri dihadapan ku sambil mengacungkan tangannnya, senyumnya terukir indah diwajah tirusnya.
“hhhai…gue Nino” dengan gelagapan aku mencoba membalas jabatan tangannya.
“kita satu kelompokan? “ tanya Rama sambil menunjuk kertas karton yang bertuliskan “ Keong Racun” yang menggantung dileher ku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan seadanya, itulah aku, Nino Dias Nugraha, orang yang sulit untuk mengakrabkan diri dengan orang lain, apalagi orang yang baru aku kenal seperti Rama. Tak ayal predikat sombong selalu melekat dihidupku.
Akhirnya MOS berakhir juga, selalu ada pengalaman seru yang tak terlupakan dalam setiap tahunnya, pastinya pengalaman dikerjai oleh kakak – kakak kelas. Aku juga mendapatkan pengalaman berharga setelah ketemu Rama, selain memiliki hobby yang sama, ternyata Rama dapat membuka mata hati ku yang beku untuk bisa merasakan indahnya persahabatan, untuk bisa melihat indahnya dunia. Rama adalah sahabat pertama ku dalam hidup ini, aku banyak melakukan perubahan setelah masuk SMA, tidak hanya berkutit dengan internet dan dunia maya, kini aku ada di dunia nyata, dunia yang penuh warna dan cinta.
Ramadhan Putra Utama, itulah nama lengkapnya, parasnya rupawan dengan postur tubuh yang tingginya sekitar 180 cm, terlahir dari keluarga yang berada tapi tidak membuatnya menjadi sombong, Rama anak pertama dari dua bersaudara, hidupnya dikelilingi oleh orang – orang yang sangat mencintainya, selain mempunyai rasa empati yang besar bagi sesama, Rama juga sangat dewasa, tidak seperti anak seumuran pada umumnya. Sosoknya yang tegas tapi supel dan ramah membuatnya mudah bergaul dengan siapapun. Banyak murid – murid wanita yang mengidolakannya, bahkan tak segan - segang mengatakan cinta kepadanya, dengan popularitas dan otaknya yang pintar tak ayal Rama terpilih menjadi ketua OSIS untuk tahun ajaran baru.
Persahabatan ku dengan Rama semakin akrab, walapun kami terpisahkan oleh kelas yang berbeda, tapi kami mengambil kegiatan ekstarkulikuler yang sama yaitu futsal dan badminton, dan yang pastinya kelas musik, karena musik adalah sebagian dari hidup kami. Aku pencinta warna gelap sedangkan Rama pencinta warna terang, kami seolah saling melengkapi, Rama juga memiliki sikap dan tatakrama yang bagus, makanya ibu suka sekali dengannya setiap dia main kerumah ku, bahkan ibu tidak segan – segannya menitipkan aku pada Rama saat aku berada di luar. Rama selalu memberi ku motivasi dan semangat, semua sifat lama ku terkikis seiring intens nya pertemuan kami. Hubungan kami begitu dekat sudah seperti saudara, bahkan Rama sering menginap dirumah ku jika hari libur, dan aku juga seperti itu, keluarganya begitu baik pada ku. Tidak ada rahasia di antara kami berdua, Rama selalu cerita jika dia sedang dekat atau suka dengen cewek disekolah, bahkan Rama sempat jadian dengan salah satu cewek disekolah, sayangnya hubungan mereka tidak berlangsung lama.
Hari ini sangat melelahkan, futsal membuat seluruh tenaga ku terkuras habis, capek banget tapi sangat menyenangkan. Waktu menunjukan pukul 21.15 Wib, karena besok hari libur, aku punya sedikit waktu luang malam ini. Tiba – tiba Rama menarik tangan ku dan membawa ku kedalam mobilnya. Dengan Honda Jazz putihnya, Rama mengajak ku kedaerah perbukitan hutan pinus di daerah Tasikmalaya, udaranya sangat sejuk dan segar, lelah ku seketika berkurang. Ku rebakahkan tubuh ku diatas hamparan rumput yang hijau, memandangi langit malam yang cerah, bintang pun dengan indah memancarkan cahayanya malam ini.
“ini tempat favorit gue kalo lagi suntuk” Rama memecahkan keheningan.
“keren….gue belum pernah kesini, apalagi malam – malam gini” aku begitu mengagumi tempat ini, tuhan memang pencipta ulung, semua karyanya selalu tercipta dengan sangat sempurna. Rama telah duduk disamping ku dan menatap tajam kearah ku, seolah – olah mencari titik terdalam dari diriku, tatapannya membuat ku risih, ku edarkan kembali pandangan ku ke langit yang membentang. Angin berhembus dengan lembutnya, udara dingin menyeruak menusuk kulit ku, tubuh ku yang kuyub akan keringat sehabis main futsal tadi tak kuasa menahan dinginnya.
“dingin ya? “ Rama menyodorkan baju dingin berjenis cardigan yang ada ditangannya. Aku menatapnya sesaat, senyum manis menghiasi wajah tampannya, senyum yang sangat digila –gilai oleh cewek – cewek disekolah, tapi aku tidak menghiraukan senyum itu. Kembali ku rebahkan tubuhku, tidak tahu kenapa aku selalu terhipnotis dengan suasana yang tenang seperti ini dan rasa kantuk mulai menyerang ku, kupejamkan mata ini.
BUUkKKKKKK….tanpa sadar pukulan ku mendarat diwajah tampan Rama, Rama tidak siap menerima pukulan ku sehingga dia terjerembab dan meringis kesakitan. Aku berlari ditengah kegelapan malam meninggalkannya, tidak ada satu orang pun disini, hanya ada barisan pohon pinus yang menjulang tinggi seolah ingin menggapai angkasa. Tenaga ku terlalu sedikit untuk berlari lebih jauh lagi, Rama berhasil mengejarku dan menyuruh ku masuk kedalam mobilnya. Terfikir untuk lari lagi darinya, tapi apa aku bisa selamat sampai rumah ditengah hutan pinus ini? Akhirnya ku mengalah demi keselamtan ku. Waktu sudah menunjukan pukul 23.55 Wib, mobil berjalan perlahan di ruas jalan yang sudah mulai sepi dari kendaraan lain.
“maafin gue No” Rama memulai pembicaaran setelah terjadi perang dingin diantara kita.
“sumpah gue nggak bermaksud macem –macem ma lo”.
“WHATTT……nggak bermaksud macem – macem kata lo? trus apa maksud lo meluk gue tiba – tiba?” kemarahan ku memuncak kembali.
“gue pikir kita sahabat Ram….”
“tapi lo udah ngelakuin hal yang nggak pantes….kita sama – sama cowok Ram”
“tapi gue sayang sama lo No” kata – kata itu membuat kami terdiam membisu, panas kuping ini mendengarnya, tapi malas untuk membalasnya, sudah cukup lelah jiwa dan raga ini. terdengar sayup – sayup Rama menangis, tapi semua itu tidak membuat ku simpati kepadanya, bahkan hanya kebencian yang mengeras dalam dada.
Setelah kejadian malam itu aku berusaha menghindar dari Rama, aku kembali menyendiri, tenggelam dalam tanda tanya besar yang masih menggantung dalam benak ku, persahabatan kami tercoreng oleh cinta yang tak semestinya tumbuh diantara kami. Cinta yang tak pantas ada, karena aku pria normal.
Aku mencoba melewati hari - hari tanpa Rama, tapi semua ini terasa hambar, tidak ada lagi canda tawa yang selalu menghiasi perjalanan kami, tidak ada lagi orang yang selalu memberi ku semangat. Dunia ini terasa sepi, warnanya mulai memudar dipandangan ku.
Pukul 14.45 Wib. Hujan begitu deras hari ini, terpaksa aku batalkan niat ku untuk pulang cepat, kucoba keperpustakaan yang terletak disudut sekolah, ternyata terlalu banyak orang disana, mereka senasib dengan ku, terjebak hujan. Ku putar pandangan ku ke sebuah ruangan yang cukup sepi dari anak – anak sekolah ini. Akhirnya ruang musik ini menjadi pilihan ku untuk menghabiskan waktu menunggu hujan reda. Ku tekan tuts – tuts piano upright yang bertengger manis di sudut ruangan. Tanpa terasa, sebuah lagu dari A7X yang berjudul “warmness on the soul” mengalun lembut keluar dari bibir ku, setitik cairan bening muncul disudut mataku, lagu itu membuat ku teringat kembali akan indahnya kenangan bersama Rama, membuat ku merasa bersalah padanya.
“apakah aku terlalu kejam padanya” batinku.
Tanpa sadar Rama sudah berdiri disamping ku, dengan wajah yang lusuh Rama mencoba duduk disamping ku. Rama kembali memainkan lagu A7X yang menjadi lagu favorit kami, dentingan piano kembali mengalun ditemani rintik hujan yang semakin deras seolah tahu akan kepedihan hati Rama. Rama menangis, seolah dalam setiap bait lagu itu menggambarkan perasaannya. Hatinya begitu hancur, rasa bersalah menyeruak kembali dalam benak ku.
“sekejam itukah aku” batinku.
Rama benar – benar terlihat berantakan, matanya bengkak, tubuh rapuh. kepalanya pun jatuh dipundak ku, air matanya terus mengalir, raganya begitu lunglai, tubuhnya panas. Tak lama tatapannya tertuju kepadaku penuh kesedihan dan harapan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku bingung, diam termenung.
“apa aku salah mencintai mu No?” ……hening…..
“apa aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta mu No?” suaranya bergetar, tatapannya tajam kearah ku seolah mencari jawaban dari semua pertanyaannya, air mata terus mengalir. Aku hanya diam membisu, tak satu kata pun mampu aku ucapkan untuk menjawabnya. Suasana hening kembali, hanya suara hujan yang menemani kami. Tiba – tiba Rama memeluk dan mencium bibir ku, tapi aku tidak berusaha menolaknya, aku menikmati semua kejadian ini. Cintanya Rama telah membuat aku lemah, cintanya telah menghancurkan keyakinan yang selama ini aku pegang.
“apa yang membuat lo seperti ini Ram?” tanya ku setelah keadaan mulai tenang.
“gue juga nggak tau No, rasa ini tumbuh dengan sendirinya”
“gue udah coba untuk menahannya, tapi nggak bisa No” Rama mencoba menjelaskan semuanya, ternyata ada rahasia besar yang selama ini Rama sembunyikan dari aku, bahkan dari semuanya termasuk keluarganya. Rama pernah mendapatkan pelecehan sexsual sewaktu duduk dibangku kelas enam sekolah dasar dulu. Pelecahan itu terjadi saat Rama ikut klub renang, bahkan tidak hanya sekali pelecehan itu terjadi. Rama kecil tidak begitu paham atas kejadian itu semua dan tidak ada keberanian untuknya mengadu.
“sumpah gue malu No”
“malu banget, gue merasa kotor, gue hina, gue nggak bisa berbuat apa – apa saat itu” tangisnya pecah kembali. Aku memeluk Rama, membiarkannya tenang dalam pelukkan ku. Pengalaman pahit yang selama ini menghantui hidupnya, pengalaman yang ingin dilupakannya.
“makanya selama ini gue selalu shalat, gue selalu berdoa semoga hal ini nggak akan terjadi lagi”.
“gue minta maaf udah buat lo seperti ini, udah bikin lo terlibat sama masa lalu gue yang kelam, maafin gue No” Rama memeluk ku dengan erat.
Sejak saat itu, aku mencoba menjalani hubungan baru dengan Rama sebagai sepasang kekasih, semua ini adalah pilihan sulit bagi ku, tapi Rama adalah sahabat terbaik yang pernah aku milki, dan aku akan sangat bersalah jika membiarkannya hancur dalam kesediahan. Kejadian sepenuhnya bukan kesalahan Rama, tapi kesalahan orang yang sudah membuatnya seperti ini. Mengalami penderitan sendiri selama bertahun – tahun. Rama hanya korban, korban dari orang biadab yang tidak bertanggung jawab.
Waktu berjalan dengan sangat cepat dan hubungan kami pun baik, tapi semua nilai sekolah ku hancur dan bahkan beasiswa yang selama ini aku dapatkan nyaris dicabut oleh pihak sekolah. Impianku untuk masuk ke universitas ternama akan sirna. Aku mencoba menceritakan ini dengan Rama dari hati kehati, ternyata Rama mengerti dan kami pun mengakhiri hubungan kami. Kami lebih pantas jadi sahabat. Cinta tidak harus memiliki ungkap Rama saat itu. Rasa bangga ku akan Rama tidak pernah sirna, dia begitu tegar dan tangguh dalam menghadapi semua masalahnya. Pengalaman pahit telah membuatnya lebih dewasa.
Pengumuman kelulusan pun telah usai, kami lulus semua, aku bahagia bisa mempertahankan beasiswa ku. Rama memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta dan aku kuliah di Bandung. Kesedihan menyelimuti aku dan Rama, tiga tahun kami bersama menjalin suatu hubungan yang penuh liku. Jarak memisahkan kami, aku dan Rama masih bersahabat, kami masih berkomunikasi via telpon atau jejaring sosial, terkadang terbersit rindu akan Rama, rindu akan persahabatan kami, rindu canda tawa renyah yang mengiringi perjalanan kami. Rama, kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki, semoga kamu bisa menjaga dirimu disana.
0 komentar:
Posting Komentar